Hari ini aku terima pesan singkat dari Dini Hariany sahabat lamaku, isinya membuatku merenung..ya..kehilangan ibunya di akhir Desember lalu ternyata masih menyisakan kepedihan mendalam bagi dia, dan diujung pesannya Dini menuliskan kalimat"mumpung orang tuamu masih ada sering-seringlah menengok, karena penyesalan itu tidak pernah datang di awal". Penyesalan karena selama ini ternyata kepedulian kita terhadap orang tua sangatlah minim. Berbagai alasan sering muncul ketika mereka menanyakan kapan akan berkunjung...
Pesan singkat itu juga mengingatkanku kepada orang tuaku tercinta yang kini hanya tinggal berdua di rumah, Alhamdulillah Allah masih memberi kesehatan kepada mereka.
Dulu... dengan delapan anak dan penghasilan Apa yang hanya seorang guru desa, tentunya sangat sulit membesarkan dan menyekolahkan kami, tapi dengan kesederhanaanya ternyata semua bisa diatasi.
Ketika aku merengek-rengek minta tas baru, mamahku mebuatkan aku sebuah tas lucu dari bahan wol, ya...mamah merajut baju hangat, tas dan juga menjahitkan pakaian untuk anak-anaknya kadang sampai larut malam...tapi cinta dan kasih sayang seakan menguapkan segala kelelahan.
Maafkan kami ya Mah, Pa...karena tidak setiap saat bisa mengunjungi dan berkumpul di rumah. maafkan kami yang tidak ada pada saat kalian membutuhkan. Di usia kami yang sudah menjadi orang tua juga dari anak-anak kami, cinta dan kasih sayang kalian laksana cahaya penerang yang selalu menyinari dan memberi kehangatan.
24 Januari 2009
08 Januari 2009
Senja di kaki langit
Hari ini, pulang kerja rasanya penat sekali...minggu pertama awal tahun, rasanya pekerjaan kok langsung berjibun.
Sampai di rumah terasa sepi karena anak-anak sedang berlibur ke rumah eyangnya.
Tapi.... seusai mandi dan ketika beranjak menutup gorden belakang rumah...semburat lembayung berwarna kuning keemasan, nampak di kaki langit dengan latar depan pohon kelapa yng memang banyak tumbuh di areal perkolaman di belakang rumah (dinas) ku. Sungguh mempesona...lukisan alam yang luar biasa... segera saja kuambil kamera dan jepret..jepret....
Ketika aku tunjukkan gambarnya ke suami, langsung deh komentar....harusnya pake kecepatan rendah, harusnya bla...bla....supaya gambarnya bagus bu...
Ah biarin aja yang penting hilang sudah penatku, memandangi keindahan langit sore dan tak henti-hentinya memuji kebesaranNya ...Subhaanaka Maa Kholaqta haadza bathila
21 Desember 2008
Bunga-bunga bermekaran
12 Desember 2008
Maryamah Karpov
Straddling the top of the world, one foot in Tibet and the other in Nepal, I cleared the ice from my oxygen mask, hunched a shoulder against the wind, and stared absently at the vast sweep of earth below. I understood on some dim, detached level that it was a spectacular sight. I'd been fantasizing about this moment, and the release of emotion that would accompany it, for many months. But now that I was finally here, standing on the summit of Mount Everest, I just couldn't summon the energy to care...into thin air by Jon Krakauer
rasanya aku tak pernah bosan membaca buku ini, deti-detil perjalanan menuju puncak Himalaya seolah-olah membawaku turut serta menapakkan kaki diantara bongkahan salju yang tebal dan udara dingin yang menusuk sampai ke sumsum tulang...ah memang paling asyik membaca tulisn tentang traveling semacam itu. Itu juga alasanku mengapa aku tak pernah melewatkan "catatan seorang backpacker" nya Agustinus Wibowo di www.kompas.com setiap hari tak terlewatkan, penuturunnya tentang perjalanan menyusuri Asia Timur sungguh menawan, tak hanya menceritakan keindahan alam yang dilalui tapi juga dengan berbagai karakter bangsa yang disinggahi sungguh menarik...
Kisah perjalanan Ikal dan Arai di "Edensor" juga sangat membuatku terlena yeah...aku tak pernah berani bahkan hanya untuk membayangkan bahwa suatu saat aku bisa keliling Eropa toh dengan membaca buku itu cukup memuaskan dahagaku.
Terakhir buku yang baru saja selesai kubaca, Maryamah Karpov buku ke empat Tetralogi laskar Pelangi telah membawaku ke kehidupan di tanah airku tercinta, tepatnya di gugusan pulau-pulau di Belitung, sangat menakjubkan, membiarkan pembaca mengembara ke suatu kehidupan yang sarat perjuangan, tak cukup kata untuk mengungkapkannya, pokoknya seru banget...
rasanya aku tak pernah bosan membaca buku ini, deti-detil perjalanan menuju puncak Himalaya seolah-olah membawaku turut serta menapakkan kaki diantara bongkahan salju yang tebal dan udara dingin yang menusuk sampai ke sumsum tulang...ah memang paling asyik membaca tulisn tentang traveling semacam itu. Itu juga alasanku mengapa aku tak pernah melewatkan "catatan seorang backpacker" nya Agustinus Wibowo di www.kompas.com setiap hari tak terlewatkan, penuturunnya tentang perjalanan menyusuri Asia Timur sungguh menawan, tak hanya menceritakan keindahan alam yang dilalui tapi juga dengan berbagai karakter bangsa yang disinggahi sungguh menarik...
Kisah perjalanan Ikal dan Arai di "Edensor" juga sangat membuatku terlena yeah...aku tak pernah berani bahkan hanya untuk membayangkan bahwa suatu saat aku bisa keliling Eropa toh dengan membaca buku itu cukup memuaskan dahagaku.
Terakhir buku yang baru saja selesai kubaca, Maryamah Karpov buku ke empat Tetralogi laskar Pelangi telah membawaku ke kehidupan di tanah airku tercinta, tepatnya di gugusan pulau-pulau di Belitung, sangat menakjubkan, membiarkan pembaca mengembara ke suatu kehidupan yang sarat perjuangan, tak cukup kata untuk mengungkapkannya, pokoknya seru banget...
05 Desember 2008
Journey to East Java
Sebenarnya tujuanku pada perjalanan kali ini adalah mengunjungi petani ikan koi di Blitar, tapi berhubung ada teman yang juga akan berangkat ke Klaten dan Lumajang, ya sekalian deh berangkat bareng. Jika biasanya aku naik bis malam jadi begitu naik langsung leeep tertidur pulas kali ini kami naik mobil kijang dan tentu saja tidak bisa tidur karena ngobrol terus.
Target pertama kami adalah petani kodok lembu di Klaten, ketika sampai ke tempat tujuan sempet agak kaget juga, ternyata petani yang dikunjungi adalah sepasang nenek dan kakek yang masih semangat untuk memelihara kodok di pekarangan rumahnya. Keramahan mereka membuat kami bernafas lega, setelah perjalanan jauh, disuguhi teh panas dan dipersilakan bersih-bersih...wah badan rasanya kembali segar ..
Setelah beristirahat sebentar, kamipun mulai hunting memilih induk-induk kodok yang besarnya minta ampun, membuat geli ketika menangkap dan memegangnya, tahu kan ukurannya bisa mencapai 700-800 gram/ekor, meloncat-loncat lagi emh...
Akhirnya setelah rampung memilih induk dan mengepaknya, kembali kami melanjutkan perjalanan panjang ke Blitar.
Perjalanan menuju Blitar berjalan lancar, aku yang terbiasa melalui jalan-jalan di daerah Jawa Barat yang turun naik terpesona dengan jalan di wilayah Jateng yang datar-datar saja, yang paling berkesan bagiku adalah mesjidnya, mesjid-mesjid yang kami singgahi di Jatim bagus-bagus,airnya jernih dan bersih lagi, yah agak beda dengan di Jabar nih yang kadang-kadang mesjid yang dipinggir jalan itu airnya agak susah dan agak keruh, kalau di sini wuih..enak banget deh segar...
Mengingat perkiraan kami hari akan menjelang sore ketika mendekati Blitar, akhirnya aku merayu kakak kelas yang bekerja di BBI Blitar, apa coba yang aku bilang..."Kak.. karena saya masih mau melanjutkan perjalanan ke Lumajang, tolong dong untuk mengambilkan sampel ikan koi dari beberapa wilayah di Blitar, terus disimpan di tempat kakak, jadi saya nggak usah berkeliling lagi, please kak...masak sih sama adiknya gak mau nolong..." he he rayuanku berhasil dan manjur, buktinya ketika sampai di BBI tempat kak Bambang kerja, sudah terkumpul ikan koi dari empat tempat. Tanpa membuang waktu aku langsung preparasi sampel ikan dan air plus kelengkapan data surveilance lain, begitu selesai dan beres-beres eh ternyata di meja sudah terhidang beragam makanan kecil dan minuman teh hangat + madu ...duh thanks banget lho kak....
Berikutnya, perjalanan kami adalah Lumajang, wuih...capeknya tak tertahankan dan yang penting lagi pantatku terasa semakin panas, kelamaan di perjalanan, sampai di Lumajang jam satu malam langsung cari hotel, mandi dan...huah tidur deh di kasur empuk sampai gak sempat mimpi. selanjutnya??? bersambung deh ngantuk nih....
Target pertama kami adalah petani kodok lembu di Klaten, ketika sampai ke tempat tujuan sempet agak kaget juga, ternyata petani yang dikunjungi adalah sepasang nenek dan kakek yang masih semangat untuk memelihara kodok di pekarangan rumahnya. Keramahan mereka membuat kami bernafas lega, setelah perjalanan jauh, disuguhi teh panas dan dipersilakan bersih-bersih...wah badan rasanya kembali segar ..
Setelah beristirahat sebentar, kamipun mulai hunting memilih induk-induk kodok yang besarnya minta ampun, membuat geli ketika menangkap dan memegangnya, tahu kan ukurannya bisa mencapai 700-800 gram/ekor, meloncat-loncat lagi emh...
Akhirnya setelah rampung memilih induk dan mengepaknya, kembali kami melanjutkan perjalanan panjang ke Blitar.
Perjalanan menuju Blitar berjalan lancar, aku yang terbiasa melalui jalan-jalan di daerah Jawa Barat yang turun naik terpesona dengan jalan di wilayah Jateng yang datar-datar saja, yang paling berkesan bagiku adalah mesjidnya, mesjid-mesjid yang kami singgahi di Jatim bagus-bagus,airnya jernih dan bersih lagi, yah agak beda dengan di Jabar nih yang kadang-kadang mesjid yang dipinggir jalan itu airnya agak susah dan agak keruh, kalau di sini wuih..enak banget deh segar...
Mengingat perkiraan kami hari akan menjelang sore ketika mendekati Blitar, akhirnya aku merayu kakak kelas yang bekerja di BBI Blitar, apa coba yang aku bilang..."Kak.. karena saya masih mau melanjutkan perjalanan ke Lumajang, tolong dong untuk mengambilkan sampel ikan koi dari beberapa wilayah di Blitar, terus disimpan di tempat kakak, jadi saya nggak usah berkeliling lagi, please kak...masak sih sama adiknya gak mau nolong..." he he rayuanku berhasil dan manjur, buktinya ketika sampai di BBI tempat kak Bambang kerja, sudah terkumpul ikan koi dari empat tempat. Tanpa membuang waktu aku langsung preparasi sampel ikan dan air plus kelengkapan data surveilance lain, begitu selesai dan beres-beres eh ternyata di meja sudah terhidang beragam makanan kecil dan minuman teh hangat + madu ...duh thanks banget lho kak....
Berikutnya, perjalanan kami adalah Lumajang, wuih...capeknya tak tertahankan dan yang penting lagi pantatku terasa semakin panas, kelamaan di perjalanan, sampai di Lumajang jam satu malam langsung cari hotel, mandi dan...huah tidur deh di kasur empuk sampai gak sempat mimpi. selanjutnya??? bersambung deh ngantuk nih....
02 Desember 2008
Baiti Jannati
Tetaplah selalu menjadi permata-permata ibu dan Apa, yang senantiasa memberi kedamaian dan keceriaan di keluarga, kalau kalian protes karena semakin lama ibu tambah cerewet ya...itu sudah selayaknya karena kalian menjelang remaja dan ibu menjelang tua...I love U all honey...
01 November 2008
pernikahan Dini
.jpg)
Gencarnya berita tentang pernikahan syech Puji dengan seorang anak di bawah umur membuatku terkenang akan masa kecil. Lahir dan dibesarkan di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota dengan beragam kehidupan yang menarik, salah satunya yaitu perkawinan dini. Ketika Andrea Hinata kehilangan sahabat yang pintar tetapi tidak bisa melanjutkan sekolah karena motif ekonomi, maka aku kehilangan sahabat-sahabat pintarku karena mereka harus menikah pada usia sangat muda ya...satu persatu mereka menikah dalam usia yang sangat dini, bayangkan teman SD ku ada yang menikah pada saat kelas II SD, usia yang seharusnya masih seru-serunya main petak umpet..kalau tidak salah dulu itu istilahnya nikah gantung; menikah tapi belum tinggal serumah..biasanya mereka menikah dengan dirayakan (pesta pernikahan) setelah kelas IV. Bagi anak-anak keturunan kyai biasanya mereka akan di'nikah gantung'kan dengan anak kyai lain
Mulai kelas IV ke atas satu persatu teman-teman puteriku menikah, ada yang menikah dengan pemuda yang juga masih remaja ada juga dengan pria yang memang sudah cukup umur, aku ingat biasanya setelah mereka menikah Bapakku yang seorang kepala sekolah akan memohon kepada keluarganya agar anak itu dibiarkan terus sekolah sampai tamat SD, dan itu kadang berhasil kadang tidak. beberapa orang memutuskan untuk berhenti begitu menikah ada juga yang tetap meneruskan sekolah walau tersendat-sendat...ya karena mereka jarang masuk, biasanya kalau masuk suka diledekin sama teman-teman laki-laki, sehingga akhirnya berhenti sekolah juga entah karena malu entah karena memang sudah menikah sehingga tidak bisa bebas lagi bermain..
Kejadian itu memang terjadi sekitar tahun 80 an bukan sekarang dan aku pikir itu tidak terjadi sekarang, jaman ketika anak putera dan puteri bersaing untuk mendapatkan pendidikan yang maksimal; tapi ternyata hal itu masih ada sekarang dan bukan terjadi di desa terpencil seperti tempat kelahiranku.
Dilihat dari segi syariat memang perkawinan itu sah karena anaknya sendiri memang sudah baligh tapi...masa bermain itu juga suatu proses pendidikan kukira..isteri yang akan menjadi ibu dari seorang bahkan beberapa orang anak haruslah pintar dan punya pendidikan memadai, bagaimana bisa seorang ibu mengajari anaknya kalau ibunya sendiri tidak bisa dan tidak tahu...Aku tidak pro dan juga kontra terhadap pernikahan dini seperti ini; Syech Puji bukan orang sembarangan tentu beliau mengerti betul apa yang telah beliau lakukan dan itu hak beliau, hanya ada pertanyaan menggelitik apakah membantu atau menolong seseorang itu hanya bisa dilakukan melalui pernikahan...
Langganan:
Postingan (Atom)